Home
PDF Cetak E-mail
Oleh abdibiof   
Kamis, 18 April 2013 00:00

EVALUASI PENETAPAN POLA PRODUKSI SAYURAN

Evaluasi Penetapan Pola Produksi Sayuran Tahun 2013 dilaksanakan pada tanggal 10 – 13 April 2013 di Hotel Premiere Pekanbaru.  Peserta kegiatan ini berjumlah 65 orang, yang terdiri dari petugas dari Dinas Pertanian Provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI. Yogjakarta, Banten, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Riau, Lampung, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Bali, dan peserta pusat.

 

Tujuan Kegiatan Evaluasi Penetapan Pola Produksi Sayuran adalah (1) untuk mengevaluasi kembali rencana jadwal tanam dan realisasinya secara teratur yang telah ditetapkan pada koordinasi perencanaan pola tanam dan pola produksi sayuran, dengan kesepakatan masing-masing daerah sesuai dengan kapasitas serapan pasar. (2) mengantisipasi rencana penyediaan sayuran untuk memenuhi kebutuhan hari besar keagamaan dan tahun baru (puasa, lebaran, natal dan tahun baru). Sasaran yang hendak dicapai dari pertemuan evaluasi pola tanam dan pola produksi ini adalah propinsi penghasil utama sayuran di Indonesia yang melaksanakan pengaturan pola tanam dan pola produksi sesuai kesepakatan.

Acara didahului dengan sambutan dan ucapan selamat datang oleh Kepala Dinas Pertanian Propinsi Pekanbaru yang di wakili oleh Sekertaris Kepala Dinas Pertanian Propinsi Pekanbaru. Dalam sambutan tersebut diungkapkan bahwa kegiatan pertemuan Evaluasi Penetapan Pola Produksi Sayuran sangat berguna karena berkaitan dengan ketersediaan produksi untuk memenuhi pasokan kebutuhan pasar dengan harga yang stabil. Diharapkan Pekanbaru dapat menanam bawang merah dan cabe merah mengingat kedua komoditas tersebut sangat ekstrim, sehingga tidak ketergantungan dengan daerah jawa.

Arahan Direktur Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat. pada acara ini adalah dengan mengevaluasi realisasi penetapan pola produksi sayuran utama tahun 2012 dan triwulan I (Januari – Maret 2013) dapat memantapkan rencana produksi, LTT sayuran April – Desember 2013. Sehingga masing-masing daerah sentra dapat menyepakati penyediaan produksi sayuran untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan menyediakan data pendukung RIPH yang sudah berjalan pada semester I. Saat ini impor bawang merah mencapai 12 % (12.000 ha), sehingga perlu adanya pengembangan bawang merah dengan rencana perluasan areal seluas 1000 – 1500 ha/th selama 5 tahun untuk mengurangi impor 7 % (7.000 ha). Sedangkan untuk impor bawang putih sebesar 90 % dari kebutuhan 400 ribu ton, dengan tujuan untuk mengurangi impor bawang putih sebesar 50 – 60%. Direncanakan akan ada penembangan areal tanam seluas 1.000 – 2.000 ha/th di daerah - daerah sentra produksi bawang putih. Untuk meningkatkan produksi cabe rawit merah, akan dilakukan rencana perluasan areal tanam di luar jawa (wilayah Indonesia timur) seluas 1.000 ha/th selama 5 tahun.

Hasil Evaluasi:

1) Setiap Dinas Pertanian Provinsi menyajikan data realisasi LTT dan produksi sayuran secara valid, akurat dan cepat sehingga data ini bisa dipakai untuk menentukan dalam pengambilan kebijakan RIPH.

2) Data realisasi LTT (cabe besar) sebagian besar di daerah dari Januari-Desember 2012 lebih kecil dari rencana LTT, hal ini dikarenakan data luas tanam yang spot-spot dan di pekarangan tidak tercatat (laporan dari Jambi).

3) Di daerah provinsi Bengkulu sentra terpusat di Rejang Lebong dan Kepahiang sedangkan di daerah lainnya hanya spot-spot yang barangkali tidak tercatat oleh BPS disamping ada bantuan dari pangan untuk saprodi yang besar-besaran sehingga mempengaruhi petani hortikultura dalam menanam sayuran dibandingkan dengan menanam tanaman pangan, sedangkan harga sayuran tetap stabil. Angka realisasi LTT tidak tercapai.

4) Di Lampung iklim/curah hujan tinggi yang mempengaruhi LTT dan produksi sayuran yang semakin berkurang, sehingga angka realisasi LTT tidak tercapai sedangkan harga tetap stabil.

5) Di Jateng terjadi pergeseran tanam di daerah dataran rendah dimana tanaman pangan semakin luas sedangkan tanaman sayuran semakin sempit sebanding dengan program bantuan pangan yang semakin besar sehingga realisasi LTT sayuran tidak tercapai.

6) Di Banten di akhir tahun 2012 terjadi curah hujan yang tinggi sehingga mempangaruhi LTT dan produksi sayuran. Pada bulan April-Juni terjadi pengalihan tanam ke komoditas lain sehingga terjadi kekurangan LTT.

7) Bangli, Tabanan dan Karang asem sentra cabe besar, dimana angka realisasi LTT tercapai.

8) Di NTB, sentra cabe ada di Lotim dgn pola padi-padi-palawija, terjadi perbedaan data antara data di lapangan dari petugas dinas pertanian dengan data BPS dimana data BPS lebih kecil sedangkan yang dipakai adalah data BPS.

9) Kalbar, di daerah sentra cabe banyak yang beralih ke komoditas perkebunan (sawit), ditambah dengan jumlah mantri tani untuk pendataan terbatas 1 kecamatan 1 orang sedangkan penyuluh sudah berpisah dengan dinas pertanian. Komoditas hortikultura tidak menjadi prioritas, dan data berupa tanaman yang spot-spot dan di pekarangan banyak yang tidak terdata.

10) Kalsel, data sdh sinkronisasi dengan bagian data. Terjadi serangan antrak di Kab. Banjar dan banjarbaru tetapi ada daerah yang sudah bekerjasama dengan Bank Indonesia dengan adanya klaster cabe, harga stabil. Perlu adanya kegiatan sinkronisasi data dan hubungan yang harmonis antara petugas dinas dengan BPS sebelum menyajikan data.

11) Kaltim, tidak tercapai dikarenakan dampak bisnis tambang yang mengakibatkan turunnya LTT dan produksi serta dampak adanya banjir. Komoditas hortikultura hanya menjadi prioritas ke 4 setelah padi-padi-padi baru hortikultura. Respon bagian data terhadap data sayuran dan buah sangat kurang dimungkinkan karena anggaran yang sangat kecil dibandingkan anggaran pangan.

12) Sulut untuk, cabe besar bukan prioritas utama disamping adanya curah hujan yang tinggi sepanjang tahun 2012. Penanaman cabe berdasarkan permintaan pasar, laporan data sayuran dari kabupaten sangat minim, sebanding dengan anggaran yang sangat minim.

13) Sulsel, data ltt tercapai sebanding dengan telah terjadi MoU antara Gubernur dengan Bupati untuk penanaman cabe.

14) Gorontalo, tercapai dengn jmlah kecil. Penyuluh yang sdh dilatih menjadi pegolah data saat ini telah berpisah sehingga dinas membina petugas-petugas yang baru.

15) Jatim, cabe besar stabil dengan pola tanam sesuai dengan permintaan pasar dan tidak mau berlebih. Berbeda dengan cabe rawit merah yang masih konvensional sehingga harga tidak stabil dan tinggi.

16) Jabar cabai tidak capai krn beralih ke komoditas lain sayuran dan kedelai yang dituntut pemerintahan daerah untuk jumlah yang besar-besaran.

17) Sumbar, di sebaran bulan Agustus ada serangan brupa kabut sehingga luas tambah tanam berkurang.

18) Produksi di OKU kecil karena ada virus kuning dll sehingga produktivitasnya 3 ton/ha, menggunakan benih lokal. Di Banyuasin 40 ha tahun 2012 kena virus kuning.

19) Bengkulu areal tanamnya merupakan luasan yang spot-spot sehingga angkanya kecil karena tidak mencapai 1 ha/komoditas karena sentra terbesar berada di kab. Rejang Lebong dan Kepahiyang. Untuk produktivitas cabe mencapai 5.5 ton/ha.

20) Kalbar, alih fungsi lahan dari cabe menjadi nanas 1000 ha shg mengurangi luas tanam dan produksi cabe besar

21) Probolinggo, kekurangan benih b merah biru lancor saat ini tersedia 60 ton benih untuk tanam 60 ha, sdgkan biasanya mereka tanam 250-500 ha, benih saat ini 30ribu/kg di Nganjuk dan sulit didapatkan.

22) Di kab. Madura benih bawang merah sedikit, dan produktivitasnya kecil 4 ton/ha,saat dipanen jg harus pakai cangkul tidak bisa dicabut langsung

Permasalahan yang ada saat ini adalah data yang terkumpul dari beberapa propinsi sebagian belum valid, hal ini disebabkan karena data dari kabupaten belum seluruhnya masuk ke Propinsi. Selain itu belum adanya kesesuaian angka yang diharapkan oleh pusat untuk memenuhi target yang diharapkan.

Dengan adanya evaluasi penetapan pola produksi yang terarah maka diharapkan stabilitas harga sayuran ditingkat produsen dan konsumen relatif stabil dan menguntungkan petani maupun konsumen, sehingga dapat mengantisipasi segala permasalahan yang dihadapi oleh daerah-daerah sentra. Untuk daerah yang belum bisa menyesuaikan angka dengan pusat agar secepatnya dapat melengkapi dengan mengirim data tersebut lewat email dan faximile, sehingga dapat segera dikompilasi oleh tim data tingkat pusat.

Evaluasi Penetapan Pola Produksi yang baik akan menghasilkan ketersediaan produk yang kontinyu sepanjang tahun sehingga dapat mengurangi terjadinya gejolak harga, dan mengevaluasi antara rencana dan realisasi areal tanam yang telah ditetapkan pada koordinasi penetapan pola produksi sayuran pada tahun sebelumnya sehingga terciptanya keseimbangan supply-demand di Indonesia. Pasokan, stabilitas harga sayuran ditingkat produsen dan konsumen relatif stabil sehingga menguntungkan petani maupun konsumen diharapkan akan terlaksana dengan adanya rencana aksi penembangan dan perluasan areal tanam khususnya untuk komoditas yang dianggap penting (Bawang merah, bawang putih dan cabe rawit merah).

Sumber: Subdit Budidaya Tanaman Sayuran

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module